Jumat, 10 Februari 2012

DASYATNYA TSUNAMI AKHLAK

Tsumani  yang terjadi di berbagai tempat meluluhlantahkan semua yang dilewati. Di aceh dan di Jepang misalnya, korban harta dan jiwa tak terhingga, banyak orang kehilangan orang tua, anak dan kerabat dekatnya. Banyak orang tidak punya pekerjaan dan tempat tinggal. Banyak orang putus harapan dan bahkan pada tingkat putus asa. Itu adalah musibah tsunami, musibah yang ditakdirkan menerjang Aceh, Negara Jepang dan lainnya.
Musibah tersebut, tidak kalah dasyatnya dengan Tsumani  akhlak. Banyak orang lupa dan hampir tidak terpikirkan akibat gempa kemanusiaan. Jika gempa Tsumani, semua orang, semua kelompok masyarakat, bahkan negara  manapun memberikan simpati dengan ucapan,
dan tindakan, bahkan mereka turut turun langsung ke daerah gempa untuk melakukan evakuasi dan rehabilitasi. Tetapi, berapa banyak orang yang sadar, turut prihatin, turut memperhatikan, turut peduli terhadap Tsumani akhlak yang menimpa negeri ini.  Akibat Tsumani akhlak ini,  semua kejahatan sudah kita saksikan. Baik melalui media tulis maupun elektronik.  Padahal, media tersebut hanya memberitakan sedikit sekali dari kejadian, peristiwa , dan realita kejahatan  yang terjadi di masyarakat. Mulai dari masyarakat kecil, tukang  kuli bongkok, buruh bangunan, buruh pabrik sampai para pengusaha, dan para pejabat, semua sudah  menggejala adanya kebrobrokan akhlak.
Bila kerugian akhlak dapat dihitung dengan angka, dengan statistik yang akurat, dengan ilmu yang canggih, pastilah semua orang terbelalak. Semua orang akan mengutuk, prihatin dan menyadari, betapa pentingnya nilai-nilai kebenaran dalam kehidupan. Biasanya data dan peristiwa akan muncul bila menjadi perhatian public. Seperti, korupsi pejabat, pembunuhan orang tua terhadap anak, anak terhadap orang tua,  cowok terhadap pacarnya,  pembunuhan terhadap teman kencanya, aborsi. Kalau semua tindak  kejahatan itu dapat dihitung dengan angka, berapa orang tiap hari terbunuh, berapa anak tiap hari terbunuh. Inilah tsumani akhlak.
Maka benarlah apabila Rasulullah diutus kemuka bumi ini untk menyempurnakan akhlak. Dengan akhlak yang baik dan benar akan tercipta kehidupan yang didambakan oleh semua orang, kehidupan yang dirindukan oleh semua bangsa, yaitu kehidupan yang bahagia jasmani dan rohani, damai, sejahtera, teratur, tertib, saling menghormati, solidaritas yang tinggi dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya.
Ambil contoh kebiasaan Rasulullah saw., bila memasak dianjurkan untuk banyak kuahnya, untuk dibagikan kepada tetangga-tetangganya. Tidak menyakiti tetangga, baik dengan lisan, maupun perbuatan. Berkata baik, bekerja sama dan saling membantu. Terhadap orang miskin diberikan haknya, baik dalam bentuk penyaluran zakat maupun sedekah lainnya.
Dari contoh yang kecil tersebut, memberikan pesan yang sangat besar dan berharga. Bagaimana tidak ada jarak antara orang kaya dan orang miskin, tidak ada perbedaan karena status sosial, tetapi ketaqwaan dan keimanan.  Dengan iman dan taqwa, maka semua orang akan dapat hidup berdampingin, rukun, damai dan sejahtera. Tetapi sebaliknya, kalau hidaupnya egois, materialis, dan penuh dengan nafsu dunia, maka kehidupan masyarakat akan hancur, tidak teratur, dan kacau balau. Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar