Sabtu, 11 Februari 2012

Berdakwah dengan kekuatan jiwa

Kedua tangan Usaid bin Hudhair menghunus tombak bibirnya gemetar dan wajahnya memerah menahan murka. Kepala kabilah Abdul Asyhal itu menghampiri Mush’ab Umair yang sedang mendakwahkan ajaran Islam di salah satu kabilah di Madinah.

Ia langsung mencaci dengan perkataan yang kasar dan menyakitkan, “Mau apa kalian datang ke kabilah diantara kami, pergilah kalian dari tempat ini, jika tidak ingin nyawa kalian melayang!”
Lalu apa yang dilakukan oleh Mush’ab bin Umair?

Mush’ab bin Umar menanggapinya dengan tersenyum hangat dan keramahan yang memancar dari hatinya. Dengan pembawaan yang mantap, dan samudra, memancarlah ketulusan hati Mush’ab bin Umar, atau Mush’ab al-Khair seperti Rasulullah Shalallhu ‘alaihi was sallam menjulukinya.
Lalu keluarlah dari lisannya yang suci kata-kata yang menyejukkan hati, “Mengapakah Anda tidak duduk dan mendengarkan terlebih dahulu? Jika Anda tertarik, anda bisa menerimanya, dan jika tidak suka, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai.”
Usaid bin Hudair adalah seorang kepala kabilah yang bijak. Berhadapan dengan Mush’ab bin Umair yang santun dan senyumnya yang tulus, hatinya luluh seketika. “Baiklah, engkau benar. “Usaid berkata seraya meletakkan tombaknya di tanah.
Kemudian Mush’ab bin Umair mulai menerangkan Islam dan dakwah Rasulullah SAW dengan kata-kata yang terpilih dan membacakan ayat-ayat al-Qur’an kepadanya, masih dengan senyuman yang penuh kasih. Belum usai Mush’ab bin Umair membaca dan menguraikan Islam, tiba-tiba Usaid menyela, “Alangkah indahnya kata-katamu itu, tidak ada kesalahan sedikitpun disana, lalu bagaimana orang yang ingin masuk agama ini?” Mush’ab menjawab, “Hendaklah ia membersihkan pakaian dan badannya, lalu mengucapkan asyhadu an la ilaha illahah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah.”
Tiba-tiba Usaid beranjak meninggalkan mereka beberapa saat, kemudian kembali dengan air yang masih menetes dari rambutnya. Ia berdiri dan berikrar, asyhadu an la ilaha illahah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah.”
Subhanallah. Allah telah membuka hati Usaid. Mush’ab bin Umair telah menjadi jalan kepala kabilah Abdul Asyhal itu mendapat hidayah-Nya. Begitu Usaid masuk Islam, ternyata membawa pengaruh besar terhadap kaumnya. Penduduk Madinah berbondong-bondong memeluk agama baru yang dibawa oleh Rasulullah  SAW.
Jangan Berlaku Keras Lagi Kasar
Itulah sepenggal kisah teladan yang patut diteladani. Seorang dai atau penyeru kebenaran kadang bersikap terburu-buru dan tanpa pertimbangan menjudge (menghakimi) seorang atau sekelompok orang yang tidak mau menerima kebenaran yang disampaikannya, tanpa melihat dan mengoreksi bagaimana ia menyampaikan kebenaran tersebut.
Memang kebenaran risalah Islam adalah hal yang sudah tidak perlu diragukan atau dikoreksi lagi, karena inilah agama yang dibawa Rasulullah SAW kepada seluruh umat manusia sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Namun, kebenaran, jika disampaikan dengan cara yang keras lagi kasar justru akan membuat orang-orang lari menjauh dari kebenaran tersebut. Alih-alih meraih sukses dalam mengajak manusia pada kebenaran, tapi justru mendapati mereka semakin keras menentang dakwah. Allah SWT telah berfirman :
                . . . . .
‘Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. . . . .’
Seorang Usiad bin Hudhair, yang berpembawaan kasar, dan berniat menghabisi Mush’ab bin Umair dengan tombaknya, seketika luluh hatinya berhadapan dengan Mush’ab yang santun dan tak pernah senyumand ari bibirnya.
Dengan kekuatan jiwa dan ketulusan hati yang memancar dari raut wajahnya, seorang dai akan menyampaikan dakwahnya dengan penuh perhitungan. Kata-katanya akan keluar dari hatinya yang tulus, sebab kata yang keluar dari hati akan masuk dan diterima oleh hati, menelusup ke dalam jiwa, dan masuk dan diterima oleh hati akan masuk dan diterima oleh hati. Menelusup ke dalam jiwa, dan meneranginya dengan cahaya hidayah. Sedangkan ucapan yang hanya manis di mulut hanya akan menjadi angin lalu yang masuk dan keluar seketika, tanpa pernah menghasilkan pencerahan jiwa.
Seorang budak yang hitam legam, tetapi mempunyai hati yang tulus dan kekuatan jiwa dalam berdakwah, dan senantiasa berharap kebaikan pada orang lain, jauh lebih baik daripada penyeru kebenaran yang memiliki kesempurnaan fisik dan ilmu, tetapi keras hatinya dan lemah jiwanya, karena ia hanya akan menjauhkan umat dari kebenaran.
Kecerdasan seorang dai yang beradu dengan akhlak yang mulia, akan dapat meraih simpati dari orang-orang di sekelilingnya. Seperti Usaid yang merasa dihargai ketika diajak berdialog oleh Mush’ab dengan penuh kelembutan. Itulah kecenderungan manusia yang selalu ingin dihargai tidak ingin direndahkan, dan sifat menghargai itu harus dipunyai oleh seorang dai. Sebagaimana Nabi Musa Alaihissalam (AS) yang diperintahkan berdakwah dengan ucapan yang lembut lagi menyentuh kepada Fir’aun yang merupakan ikon kekafiran.
Keberanian Pangkal Ketenangan
Seorang penerus kebenaran juga harus mempunyai sifat pemberani menghadapi berbagai berbagai rintangan dakwah dan orang-orang yang tidak suka terhadap dakwah yang dilakukannya. Bagaimana mungkin dai yang penakut (jabban) akan dapat sukses berdakwah kepada orang yang menghunuskan tombaknya di hadapannya dan bermaksud menghabisi nyawanya, jika sebelum mengeluarkan kata-kata, dia sudah harus berhadapan dengan tombak yang tajam.
Ketenangan yang ditampilkan oleh Mush’ab adalah berasal dari sifat berani – karena benar, yang ada pada dirinya, sehingga ia tidak kehilangan kontrol diri dan emosinya, sehingga dapat menyusun kata-kata yang sistematis dan terencana. Hasilnya adalah seruan yang tidak ada cela dan kesalahan, sehingga dakwah akan diterima dengan tangan dan hati terbuka.
Menjadi dai adalah memikul amanah untuk menyampaikan kebenaran kepada umat dan membawa pencerahan pada masyarakat. Amanah yang tidak ringan, yang kadang harus diemban dengan cucuran keringat dan darah, dengan pengorbanan harta benda, tenaga dan bahkan nyawa. Namun, Allah memberikan sanjungan yang tinggi kepada para penyeru kebenaran.
               
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar