Rabu, 11 April 2012

Menjadi Sebaik-baik Manusia


Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)
Sobat, manusia itu makhluk sosial. Tak ada yang bisa membantah. Tidak ada satu orangpun yang bisa hidup sendiri. Semua saling berketergantungan. Saling membutuhkan. Hanya omong kosong dibungkus kesombongan yang nyata ketika seseorang berujar “aku bisa hidup sendiri tanpa orang lain..bla3x”
Karena saling membutuhkan, pola hubungan seseorang dengan orang lain adalah untuk saling mengambil manfaat. Ada yang memberi jasa dan ada yang mendapat jasa. Si pemberi jasa mendapat imbalan dan penerima jasa mendapat manfaat. Itulah pola hubungan yang lazim.naluri kita akan mengatakan itu hal yang Adil. Namun, orang yang mengambil terlalu banyak manfaat dari orang lain dengan pengorbanan yang amat minim. Naluri kita akan mengatakan, ini tidak adil.

Namun yang dibahas disini bukanlah “orang tidak adil”, tetapi orang yang luar biasa. Dimana dia adalah orang yang lebih banyak memberikan manfaat daripada mengambil manfaat dalam bermuamalah. Orang yang seperti ini kita sebut orang yang terbaik di antara kita. Salah satu cirinya adalah Dermawan. Ikhlas. Tanpa pamrih (kecuali ridho Allah semata).
Rasulullah menyebut Orang yang selalu menebar kebaikan dan memberi manfaat bagi orang lain adalah sebaik-baik manusia. Kenapa Rasulullah SAW menyebut seperti itu? Setidaknya ada 4 alasan yang mendasari kenapa kita harus berjuang menjadi sebaik – baik manusia.
Pertama, karena manusia tersebut akan dicintai Allah swt. Rasulullah SAW pernah bersabda yang bunyinya kurang lebih, orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (lihat hadist diatas). Adakah tipe manusia yang lebih baik dari orang yang dicintai Allah SWT?
Alasan kedua, karena ia melakukan amal yang terbaik. Kaidah usul fiqih menyebutkan bahwa kebaikan yang amalnya dirasakan orang lain lebih bermanfaat ketimbang yang manfaatnya dirasakan oleh diri sendiri. Apalagi jika efeknya adalah lebih luas. Amal itu bisa menyebabkan orang seluruh negeri merasakan manfaatnya. Karena itu tak heran jika para sahabat ketika ingin melakukan suatu kebaikan bertanya kepada Rasulullah SAW, amal apa yang paling afdhol untuk dikerjakan. Ketika musim kemarau dan masyarakat kesulitan air, Rasulullah SAW berkata membuat atau membeli (untuk disedekahkan) sumur adalah amal yang paling utama. Saat seseorang ingin berjihad sementara ia punya ibu yang sudah sepuh dan tidak ada yang merawat, Rasulullah SAW menyebut berbakti kepada si ibu adalah amal yang paling utama bagi orang itu. Ketika banyak sekali anak yatim yang ditinggal syahid orang tuanya ,Rasulullah mengatakan amal yang terbaik adalah menyantuni anak yatim Dan beberapa contoh kebaikan-kebaikan utama lainnya.
Alasan ketiga, karena orang yang memberi manfaat bagi orang lain, mendapatkan pahala yang sangat besar. Bahkan, melebih pahala i’tikaf selama sebulan di Masjid Nabawi, Madinah. Nabi saw. berkata, “Seandainya aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi suatu kebutuhannya, maka itu lebih aku cintai daripada I’tikaf sebulan di masjidku ini.”
Alasan keempat, memberi manfaat kepada orang lain tanpa pamrih, mengundang kesaksian dan pujian orang yang beriman. Nabi dan orang-orang beriman akan menjadi saksi perbuatan itu di hadapan Allah swt. di akhirat kelak. Karena itu Allah swt. menyuruh Rasulullah saw. untuk memerintahkan kita, orang beriman, untuk beramal sebaik-baiknya amal. Allah, Rasul, dan orang beriman akan menilai kualitas amal-amal kita itu (lihat At-Taubah: 105).
Untuk bisa punya sifat selalu memberi, ada beberapa hal harus kita set up ke dalam diri kita. Pertama, iman kepada Allah swt. Sebab, amal tanpa pamrih adalah bentuk ikhlas. Hanya mengharap ridho Allah. Tak mungkin sifat ini ada jika iman kita tipis.
Mungkin kita perlu berkaca kepada Bilal bin Rabah. Ia hidup miskin. Namun ia selalu bersedekah di dalam keadaan sesulit apapun. Kata Nabi, sedekah tidak membuat rezeki berkurang. Bilal mengimani janji Nabi ini.
Kedua, untuk bisa memberi manfaat kepada orang lain tanpa pamrih, kita perlu mengikis habis sifat egois dan rasa serakah terhadap materi dari diri kita. Allah swt. menyebut kaum Anshor sebagai sebaik-baik komunitas. Mereka memberi semua kebutuhan hidup kaum Muhajirin tanpa terbetik di hati mereka untuk meminta kembali apa yang pernah mereka beri.
Ketiga, harus ada keyakinan “sisa harta kita adalah yang telah diberikan kepada orang lain” di benak kita. Pernah Nabi menyembelih kambing. Beliau menyuruh seorang sahabat untuk menyedekahkan daging kambing itu. Setelah dibagi-bagi, Nabi bertanya, berapa yang tersisa? Sahabat menjawab, hanya tinggal sepotong paha. Nabi mengoreksi jawaban itu. Yang tersisa bagi kita adalah apa yang telah dibagikan. Itulah yang kekal sebagai tabungan akhirat. Sementara, daging paha yang ada tak lama lagi akan busuk atau membusuk di dalam perut kita sebelum menjadi kotoran.
Begitulah harta. Jika tidak dimanfaatkan untuk beramal, akan lepas selamanya dari tangan kita: lapuk dimakan usia, menjadi sampah, atau diperebutkan ahli waris. Tak heran jika Abu Tholhah tidak bisa tidur nyenyak sebelum keuntungan berdagangnya disedekahkan di malam itu juga.
Keempat, memberi manfaat tanpa pamrih kepada orang lain menjadi mudah jika di benak kita ada pemahaman bahwa “sebagaimana kita memperlakukan, seperti itu jugalah kita akan diperlakukan. “Jika kita memuliakan tamu, seperti itu juga kita dimuliakan saat bertamu. Anda pelit ke tetangga, tetangga pun akan pelit ke Anda. Kelima, untuk bisa memberi, kita harus memiliki sesuatu. Bentuknya bisa dana, pikiran, tenaga, waktu, dan perhatian.
Marilah kita bersosialisasi, bermuamalah sesuai yang telah disyariatkan Allah swt. Orang yang benar-benar menuju taqwa bukanlah sekedar rajin ibadah tetapi juga rajin “membuktikan” hasil ibadah dengan perilaku sosial yang shaleh, bermanfaat bagi ingkungannya.
Jika sobat merasa tidak/belum/kurang bermanfaat bagi manusia lain, bahkan selalu menjadi kerugian bagi orang lain. Wajibkan diri introspeksi dan perbaiki diri. Karena itulah jalan pembuktian keimanan yang sebenarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar