Jumat, 20 Januari 2012

Menjadi Manusia Beruntung di Dunia dan Akhirat

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (Q.S. al-‘Ashr: 2-3)
Di Qs : al-‘Ashr: 2 ini Allah dengan tegas menjelaskan bahwa sesungguhnya seluruh manusia itu berada dalam kerugian. Namun di ayat selanjutnya, yaitu ayat ke-3 ternyata Allah memberikan pengecualian Yaitu kepada orang yang memenuhi keempat syarat yang telah Allah gariskan. Yaitu:

  1. Beriman kepada Allah
Untuk menjadi manusia yang beruntung, maka kita harus menjadi manusia yang beriman kepada Allah, yang percaya kepada Allah, mengenal siapa Rabbnya, mengenal siapa Tuhannya Serta mau melaksanakan perintah-Nya.
Manusia yang beruntung adalah manusia yang tidak hanya beruntung di dunia saja tetapi juga beruntung di akhirat. Dan jika kita ingin sukses di dunia dan selamat di akhirat, maka kita harus mempercayai dan mengenali penguasa dunia dan akhirat yaitu Allah subhanahu wata’ala.

Masih ingatkah kita kepada ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kaum Quraisy? Beliau bersabda, “Maukah kalian kuajarkan kalimat yang dengannya kalian bisa menguasai dunia?”. Lalu kaum Quraisy berkata, “Apakah itu?”. Nabi menjawab, “ucapkanlah ayhadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah!”. Lalu kaum Quraisy pun mengejek beliau. Namun ternyata ucapan beliau terbukti hanya beberapa belas tahun setelah beliau meninggal.
Ada Umar bin Khattab, sang al-Faruq yang berhasil menyebarkan panji dakwah hingga ke negeri Persia dan Romawi, ada Abu Ubaidah bin Jarrah yang telah menundukkan Syam, ada Sa’ad bin Abi Waqqash sang penakluk Persia, ada Amr bin Ash sang pembebas Mesir. Apa sebenarnya yang membuat mereka menjadi manusia luar biasa padahal sebelumnya mereka hanya manusia biasa? Apa sebenarnya yang mengangkat derajat Bilal bin Rabah dan Zaid bin Haritsah yang dari seorang budak menjadi seorang ksatria? Apa sebenarnya yang mengangkat derajat Ammar bin Yasir yang papa dan lemah tak berdaya menjadi manusia yang perkasa? Semuanya berasal dari satu kekuatan! Yaitu kekuatan iman yang menancap di lubuk hati mereka. Kekuatan iman yang mampu mengubah mereka menjadi singa yang garang ketika berjihad dan berperang dan mampu mengubah mereka menjadi manusia berhati selembut sutra kepada saudara mereka. Mereka berhasil menggenggam dunia dan selamat di akhirat.
Bandingkan dengan kondisi para pembesar dunia yang tidak ada keimanan dalam hati mereka. Apakah mereka menjadi manusia yang beruntung? Mungkin mereka beruntung di dunia. Namun sayang, di akhirat mereka celaka. Tidakkan anda perhatikan bagaimana besar dan banyaknya kekayaan Fir’aun dan Qarun? Namun ternyata Allah membinasakan mereka dalam keadaan yang hina! Mengapa? Karena di hati mereka tidak ada secuil pun keimanan kepada Rabb alam semesta.
  1. Mengerjakan amal saleh
Manusia yang beruntung adalah manusia yang dalam kehidupannya terus dan tetap istiqamah beribadah kepada Allah. Ibadah mereka tidak hanya sebatas shalat, puasa, dan zakat saja, Tetapi lebih luas daripada itu. Ibadah mereka adalah segala amal kebaikan yang mereka kerjakan. Mereka mampu menjadikan hidup ini sebagai ladang untuk beramal.

Tidak peduli seberapa besar amal saleh yang anda kerjakan. Namun yang paling penting adalah bagaimana anda konsisten dengan perbuatan anda tersebut. Bagaimana anda memegang teguh prinsip kebaikan anda. Dan tahukah anda? Bahwa sebenarnya banyak manusia-manusia biasa yang menjadi manusia yang menjadi luar biasa karena mereka mampu memegang teguh prinsip yang mereka pegang. Mereka mampu melakukan totalitas dalam kesalehan mereka.
Lihat saja Utsman bin Affan. Beliau adalah orang yang sangat pemalu. Saking pemalunya hingga malaikat pun malu kepadanya. Dan dirinya memang konsisten dengan rasa malunya. Dirinya malu jika dirinya menikmati air yang segar sedangkan yang lainnya kesusahan mencari air, hingga akhirnya dia membeli sumur Rum. Dirinya malu jika hartanya tidak disumbangkan di jalan Allah. Maka pada Perang Tabuk, dirinya menyediakan sepertiga keperluan pasukan.
Atau mungkin sosok Abu Bakar mampu menjadi teladan. Dirinya mampu konsisten dalam membenarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga akhirnya beliau disebut ash-shiddiq. Atau Umar bin Khattab yang konsisten dengan hatinya yang teguh bak batu karang. Dirinya benar-benar memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Tidak ada yang abu-abu di dalam pandangannya. Hingga akhirnya beliau disebut al-Faruq.
  1. Saling menasihati dalam kebenaran
Setiap manusia tentu saja pernah melakukan kesalahan. Dan memang kesalahan adalah hal yang manusiawi. Namun, yang menjadi permasalahannya adalah sampai kapan kita melakukan kesalahan tersebut? Tentu saja kita tidak akan selamanya melakukan kesalahan. Namun kita butuh seseorang yang meluruskan kita jika langkah kita mulai menyimpang.

Karena itu, manusia yang paling beruntung adalah manusia yang saling menasihati dalam kebenaran, karena dengannya mampu merubah lingkungan ke arah yang lebih baik, mampu membentuk generasi yang lebih bagus dibandingkan sebelumnya, mampu melahirkan pribadi-pribadi tangguh yang mampu menjadi pembesar dunia dan akhirat.
Dalam lintasan sejarah, banyak nama manusia agung yang harum sepanjang zaman. Contohnya saja Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan Imam Abu Hanifah. Mengapa nama mereka mampu dikenal oleh manusia hingga saat ini? Karena mereka berdakwah dan menyeru kepada kebenaran. Mereka memperbaiki lingkungan mereka ke arah yang lebih baik. Mereka berhasil membentuk generasi yang berilmu melalui sistem saling menasihati dalam kebenaran.
Masih ingatkah kita kepada pidato Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz ketika mereka diangkat sebagai khalifah?
“Taatilah jika aku berada dalam kebenaran dan luruskanlah aku jika aku menyimpang!”
  1. Saling menasihati dalam kesabaran
Sebagai manusia biasa, tentu saja kita pernah mendapatkan ujian dari Allah, Baik itu lewat musibah, bencana, dll.
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S al-Baqarah: 155)

Dan jika kita ingin menjadi manusia yang beruntung, maka kita harus mampu menjadi manusia yang saling menasihati dalam kesabaran satu sama lain, karena dunia ini adalah tempatnya ujian dari Allah. Dan tentu jika kita ingin lulus dari ujian ini, maka kita harus memiliki kesabaran dalam menghadapi ujian tersebut.
Dalam sejarah, banyak orang-orang yang namanya harum karena mereka mampu menaklukkan ujian dengan kesabaran dan niat yang tinggi. Lihat saja kehidupan Imam Ahmad bin Hanbal. Seorang yang miskin lagi yatim, namun dengan kesabaran yang ekstra dirinya mampu mengarungi padang pasir yang luas dari Irak ke Yaman demi menuntut ilmu. Padahal umurnya saat itu masih 15 tahun!
Atau mungkin kisah sahabat dan golongan orang-orang yang paling awal masuk Islam mampu menjadikan kita lebih bisa merenung. Mereka, generasi pertama kaum muslimin, menghadapi ujian yang sangat luar biasa. Namun siapa sangka, ternyata orang-orang yang awalnya tertindas mampu bangkit menjadi manusia penguasa dunia.
Bilal bin Rabah memang hanya budak biasa, Namun siapa sangka dirinya mampu menjadi pahlawan penegak kalimat Ahad di muka bumi!
Mereka, generasi awal umat Islam, telah mengajarkan kita banyak hal. Yaitu dengan saling menasihati dalam kesabaran, mereka mampu menjadi tonggak dan pondasi yang kokoh bagi umat terbaik di dunia, umat Islam!
Karena itu, untuk menjadi orang yang beruntung, yaitu orang yang sukses di dunia dan selamat di akhirat, kita harus mampu melaksanakan keempat kriteria tersebut. Jika kita belum melaksanakan semuanya, maka kita belum menjadi manusia yang beruntung secara keseluruhan.
Wallahu a’lam 
 oleh: Slamet R

Tidak ada komentar:

Posting Komentar