Senin, 23 Januari 2012

JANGAN LALAI DENGAN HARTA

Maka tatkala mereka melupakan perintah yang telah diberikan kepada mereka, kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (Q.S Al-An’aam : 44)

Datangnya musibah dari Allah itu serba mendadak tanpa kita memiliki persiapan untuk menghadapinya. Tak peduli apakah kita sedang capai, kantong kempes, dan banyak kesibukan yang luar biasa. Apabila Allah sudah menentukan maka tidak akan ada yang bisa menundanya.

Oleh karena itu, waspadalah dengan keadaan lapang karena jalan hidup ini tak selamanya mulus. Bahkan dalam ayat diatas Allah menjelaskan bahwa sebelum Allah menurunkan azab maka Allah akan melimpahkan berbagai kesenangan kepada manusia. Oleh karena itu, ketika harta kita banyak dan lapang jangan lekas bangga dan bergembira, akan tetapi justru mestinya kita terus menjaga taqwa kita kepada Allah, jangan-jangan harta yang banyak itu tipuan yang melenakan kita.

Faktanya, banyak sekali orang yang tertipu dengan keberadaan hartanya yang banyak. Karena hartanya banyak dan segala keinginannya selalu terpenuhi maka ia tak lagi merasa membutuhkan tuhan. Tak lagi butuh berdo’a. dalam pandangannya semua kejadian adalah karena usaha manusia semata-mata. Amatilah kejadian ini di sekitar kita.

Jangan Terkecoh dengan Banyaknya Harta
Sesungguhnya Robbmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha melihat hamba-hamba-Nya. (Q.S Al-Israa’ :30)

Kehidupan didunia ini tak pernah lepas dari ujian keimanan. Ujian keimanan terus menyertai diri kita, baik disaat kita lapang maupun disaat sempit harta. Ujian itu bukan hanya ada ketika rezeki kita sempit seperti yang dianggap oleh sebagian orang. Mereka hanya merasa diuji oleh Allah hanya disaat rezeki mereka sempit. Adapun ketika harta mereka berlimpah, mereka menganggap saat itu ujian sedang tidak ada.

Pemikiran seperti ini membuat orang kemudian gegabah ketika keadaanya lapang. Ia membelanjakan harta seenaknya sendiri menuruti hawa nafsunya. Maka tak perlu kita heran kalau ada orang membeli mobil seharga satu miliar atau dua miliar, membeli ikan lou-han seharga satu miliar, membeli burung seharga ratusan juta dan sebagainya. Padahal di sekitar mereka banyak orang miskin yang merana. Allah berfirman:

Dan apabila kami berikan kesenangan kepada manusia, niscaya berpalinglah dia, dan membelakang dengan sikap myang sombong. Dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa. (Q.S Al-Israa’ :83)

Allah sudah menegaskan dalam firman-Nya bahwa lapang dan sempitnya rezeki seseorang adalah sudah menjadi kehendak Allah. Keduanya adalah untuk menguji tingkat keimanan hamba-hamba-Nya. Maka, jangan sampai kita terlena, baik ketika sempit maupun lapang. Di saat sempit, Allah menguji apakah kita tetap mencintai Allah dan yakin dengan pertolongan dan kuasa-Nya. Bahkan kalau kita sabar maka Allah akan mengampuni dosa-dosa kita karena penderitaan yang kita rasakan Nabi SAW bersabda :

Jika Allah menghendaki kebaikan terhadap hamba-Nya maka dilaksanakan segera pembalasanya siksanya di dunia, sbaliknya jika Allah menghendaki binasa terhadap hamba-Nya, ditahan pembalasan dosanya hingga di tuntut kelak di akhirat. (H.R. Tirmidzi dan al-hakim, hadits hasan menurut al-albani)

Rezeki yang sedang sempit tidaklah mesti menunjukan keburukan. Bisa jadi itulah tanda Allah menyegerakan siksa bagi kita. Demikian pula dengan kelapangan rezeki, bisa saja hal itu adalah tanda bahwa Allah hendak menunda siksa-Nya. Betapa banyak orang yang tertipu dengan keadaan lapang ini sehingga membuat mereka enggan bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah. “Tanpa Ibadah pun rezeki sudah mengalir terus, bukankah ini pertanda bahwa aku adalah orang yang baik?” inilah pemikiran mereka yang tertipu.

Seluruh Harta Kita Hanyalah Titipan
Kita sering lupa bahwa dahulu kita lahir di dunia ini tanpa membawa harta sedikitpun. Bahkan meski hanya sekedar baju. Kita juga tidak bisa berbuat apa-apa. Akal kita belum bekerja dengan baik. Baik lahir maupun batin semuanya lemah. Allah hanya memberi satu, kemampuan dan keinginan mengisap air susu. Begitu lemahnya kita saat itu. Benar-benar sangat lemah. Akan tetapi, bagaimanakah keadaan kita sekarang? Lihatlah, betapa penuh otak kita dengan cita-cita dan keinginan. Bukan hanya baju yang menempel di badan kita. Bahkan kendaraan, rumah, dan berbagai harta benda yang banyak telah menyertai kita. Tapi sayang, sering kita lupa bahwa semua itu sesungguhnya bukan milik kita. Semua itu hanyalah milik Allah yang dititipkan kepada kita untuk menguji seberapa tebal sesungguhnya iman kita. Itu sebabnya apabila kita ditimpa musibah maka jalan yang benar kecuali mengucapkan kalimat istirja, innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kita kembali), sebagaimana firman-Nya:

Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innalillaahi wa innaa lillahi raaji’uun.” (QS. Al-Baqarah [2] : 155-156)

Inilah yang sering kita lupakan. Memang, dalam sertifikat rumah kita tertulis nama kita akan tetapi, itu hanya tulisan. Demikian juga harta kita yang lain. Dengan mantap setiap hari kita merasa sebagai pemilik selamanya. Mereka yang berhasil mengelola rezeki bukanlah orang-orang yang hartanya banyak. Akan tetapi, mereka adalah orang-orang yang senantiasa tidak pernah memiliki apa pun. Semua itu hanyalah titipan dari Yang Maha Kuasa. Tidak heran bila mereka ‘enteng-enteng’ saja bila bersedekah. Tidak takut akan jatuh miskin, dan tidak silau oleh harta benda. Sebenarnya kalimat istirja itu adalah jawaban atas segala misteri haru-biru berbagai macam kejadian di dunai ini. Dan Allah telah berkata, “berilah kabar gembira itu disampaikan kalau bukan kapada orang yang memahami kalimat ini? Dan apa maksud kabar gembira itu kalau bukan ridla Allah dan surga?

Wallahu a’lam. Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah curahkan kepada Rasul kita yang mulia, beserta keluarga dan para sahabat beliau, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Dan akhir seruan kami adalah Segala puji bagi Allah, tuhan semesta alam . . . . ]

1 komentar: