Maka tatkala mereka melupakan perintah yang telah
diberikan kepada mereka, kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk
mereka sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan
kepada mereka, kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu
mereka terdiam berputus asa. (Q.S
Al-An’aam : 44)
Datangnya musibah dari Allah itu serba mendadak
tanpa kita memiliki persiapan untuk menghadapinya. Tak peduli apakah kita
sedang capai, kantong kempes, dan banyak kesibukan yang luar biasa. Apabila
Allah sudah menentukan maka tidak akan ada yang bisa menundanya.
Oleh karena itu, waspadalah dengan keadaan lapang
karena jalan hidup ini tak selamanya mulus. Bahkan dalam ayat diatas Allah
menjelaskan bahwa sebelum Allah menurunkan azab maka Allah akan melimpahkan
berbagai kesenangan kepada manusia. Oleh karena itu, ketika harta kita banyak
dan lapang jangan lekas bangga dan bergembira, akan tetapi justru mestinya kita
terus menjaga taqwa kita kepada Allah, jangan-jangan harta yang banyak itu
tipuan yang melenakan kita.
Faktanya, banyak sekali orang yang tertipu
dengan keberadaan hartanya yang banyak. Karena hartanya banyak dan segala
keinginannya selalu terpenuhi maka ia tak lagi merasa membutuhkan tuhan. Tak
lagi butuh berdo’a. dalam pandangannya semua kejadian adalah karena usaha
manusia semata-mata. Amatilah kejadian ini di sekitar kita.
Jangan Terkecoh dengan Banyaknya Harta
Sesungguhnya Robbmu melapangkan rezeki
kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha
Mengetahui lagi Maha melihat hamba-hamba-Nya. (Q.S Al-Israa’ :30)
Kehidupan didunia ini tak pernah lepas dari
ujian keimanan. Ujian keimanan terus menyertai diri kita, baik disaat kita
lapang maupun disaat sempit harta. Ujian itu bukan hanya ada ketika rezeki kita
sempit seperti yang dianggap oleh sebagian orang. Mereka hanya merasa diuji
oleh Allah hanya disaat rezeki mereka sempit. Adapun ketika harta mereka
berlimpah, mereka menganggap saat itu ujian sedang tidak ada.
Pemikiran seperti ini membuat orang kemudian
gegabah ketika keadaanya lapang. Ia membelanjakan harta seenaknya sendiri
menuruti hawa nafsunya. Maka tak perlu kita heran kalau ada orang membeli mobil
seharga satu miliar atau dua miliar, membeli ikan lou-han seharga satu miliar,
membeli burung seharga ratusan juta dan sebagainya. Padahal di sekitar mereka
banyak orang miskin yang merana. Allah berfirman:
Dan apabila kami berikan kesenangan
kepada manusia, niscaya berpalinglah dia, dan membelakang dengan sikap myang
sombong. Dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa. (Q.S Al-Israa’ :83)
Allah sudah menegaskan dalam firman-Nya bahwa
lapang dan sempitnya rezeki seseorang adalah sudah menjadi kehendak Allah.
Keduanya adalah untuk menguji tingkat keimanan hamba-hamba-Nya. Maka, jangan
sampai kita terlena, baik ketika sempit maupun lapang. Di saat sempit, Allah
menguji apakah kita tetap mencintai Allah dan yakin dengan pertolongan dan
kuasa-Nya. Bahkan kalau kita sabar maka Allah akan mengampuni dosa-dosa kita
karena penderitaan yang kita rasakan Nabi SAW bersabda :
Jika Allah menghendaki kebaikan terhadap
hamba-Nya maka dilaksanakan segera pembalasanya siksanya di dunia, sbaliknya
jika Allah menghendaki binasa terhadap hamba-Nya, ditahan pembalasan dosanya
hingga di tuntut kelak di akhirat. (H.R. Tirmidzi dan al-hakim, hadits hasan menurut al-albani)
Rezeki yang sedang sempit tidaklah mesti menunjukan keburukan. Bisa jadi
itulah tanda Allah menyegerakan siksa bagi kita. Demikian pula dengan
kelapangan rezeki, bisa saja hal itu adalah tanda bahwa Allah hendak menunda
siksa-Nya. Betapa banyak orang yang tertipu dengan keadaan lapang ini sehingga
membuat mereka enggan bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah. “Tanpa Ibadah
pun rezeki sudah mengalir terus, bukankah ini pertanda bahwa aku adalah orang
yang baik?” inilah pemikiran mereka yang tertipu.
Seluruh Harta Kita Hanyalah Titipan
Kita sering lupa bahwa dahulu kita lahir di
dunia ini tanpa membawa harta sedikitpun. Bahkan meski hanya sekedar baju. Kita
juga tidak bisa berbuat apa-apa. Akal kita belum bekerja dengan baik. Baik
lahir maupun batin semuanya lemah. Allah hanya memberi satu, kemampuan dan
keinginan mengisap air susu. Begitu lemahnya kita saat itu. Benar-benar sangat
lemah. Akan tetapi, bagaimanakah keadaan kita sekarang? Lihatlah, betapa penuh
otak kita dengan cita-cita dan keinginan. Bukan hanya baju yang menempel di
badan kita. Bahkan kendaraan, rumah, dan berbagai harta benda yang banyak telah
menyertai kita. Tapi sayang, sering kita lupa bahwa semua itu sesungguhnya
bukan milik kita. Semua itu hanyalah milik Allah yang dititipkan kepada kita
untuk menguji seberapa tebal sesungguhnya iman kita. Itu sebabnya apabila kita
ditimpa musibah maka jalan yang benar kecuali mengucapkan kalimat istirja, innaa
lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (sesungguhnya kami milik Allah dan
kepada-Nya kita kembali), sebagaimana firman-Nya:
Dan berikanlah berita gembira kepada
orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah,
mereka mengucapkan: “Innalillaahi
wa innaa lillahi raaji’uun.” (QS. Al-Baqarah [2] : 155-156)
Inilah yang sering kita lupakan. Memang, dalam
sertifikat rumah kita tertulis nama kita akan tetapi, itu hanya tulisan.
Demikian juga harta kita yang lain. Dengan mantap setiap hari kita merasa
sebagai pemilik selamanya. Mereka yang berhasil mengelola rezeki bukanlah
orang-orang yang hartanya banyak. Akan tetapi, mereka adalah orang-orang yang
senantiasa tidak pernah memiliki apa pun. Semua itu hanyalah titipan dari Yang Maha
Kuasa. Tidak heran bila mereka ‘enteng-enteng’ saja bila bersedekah. Tidak
takut akan jatuh miskin, dan tidak silau oleh harta benda. Sebenarnya kalimat
istirja itu adalah jawaban atas segala misteri haru-biru berbagai macam
kejadian di dunai ini. Dan Allah telah berkata, “berilah kabar gembira itu
disampaikan kalau bukan kapada orang yang memahami kalimat ini? Dan apa maksud
kabar gembira itu kalau bukan ridla Allah dan surga?
amin ya allah,lindungilah hambamu ini dari sifat2 lalai.
BalasHapus