Oleh Muhammad Atim
Allah SWT mengingatkan kita dalam Al-Qur'an bahwa
keshalihan pribadi seseorang dalam kekhusyu'an beribadah kepada Allah belum
bisa membuatnya mendapatkan keberuntungan sebelum kita mau peduli terhadap
sesama kita. Hal ini bisa kita renungkan dalam firman-Nya, "Tahukah
kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim.
Dan tidak menganjurkan memberi makanan orang miskin. Maka
kecelakaanlah untuk orang-orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai
dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya. Dan enggan menolong
dengan barang yang berguna." (QS. Al-Ma’un ayat 1 – 7).
Oleh karena itu, dalam Islam Allah SWT mensyariatkan
Zakat, Infak dan Shodaqoh. Dalam banyak ayat Al-Qur'an Allah SWT seringkali menggandengkan
antara ibadah sholat dengan kewajiban zakat, terhitung ada 82 ayat. Salah
satunya adalah, “Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan
apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya
pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Baqarah: 110). Betapa pentingnya kesejahteraan sosial untuk ditegakkan
dengan terlaksananya kewajiban zakat dan tentu dengan pengelolaan yang baik,
sampai-sampai Khalifah Abu Bakar Shiddiq ra. memerangi orang yang enggan
membayar zakat pada masanya, begitulah seharusnya peran pemerintah dalam
mensejahterakan rakyatnya.
Di samping kewajiban zakat, Allah SWT menggugah
hamba-Nya untuk melakukan Infak dan Shadaqoh sebagai penopang kesejahteraan dan
keseimbangan sosial masyarakat. Dalam salah satu haditsnya Rasulullah saw
mengajak kita untuk peduli terhadap sesama. “Barangsiapa meringankan
kesusahan seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada
hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit,
Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup ‘aib
seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhirat. Allah
akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.”
(HR. Muslim).
Harta kita yang merupakan titipan Allah, tentu kita
tidak menginginkan jika ia menjadi adzab dan pembakar kita di neraka
sebagaimana diterangkan dalam surat At-Taubah ayat 34 – 35. Jika kita menyadari
bahwa harta kita itu sesungguhnya milik Allah semata, maka semestinya kita
pergunakan harta itu sesuai petunjuk Allah SWT. Allah SWT mengingatkan bahwa
pada harta kita itu ada hak bagi mereka yang tidak mampu, "Dan pada
harta-harta mereka terdapat hak untuk orang miskin yang meminta dan orang
miskin yang tidak mendapat bagian". (Adz-Dzariyat : 19).
Kita juga meyakini bahwa apapun yang kita berikan
dengan ikhlas pada hakikatnya ia akan kembali kepada diri kita sendiri,
sebagaimana Allah janjikan dalam ayat-Nya, "Bukanlah kewajibanmu
menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi hidayah
kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu
nafkahkan (di jalan allah), maka itu untuk dirimu sendiri. Dan janganlah
kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa
saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya
dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan)." (QS.Al-Baqarah
: 272).
Harta yang kita zakatkan, yang kita infakkan atau yang
kita shodaqohkan, pada hakikatnya ia bagi diri kita sendiri, manfaatnya akan
kembali kepada kita baik berupa kebaikan-kebaikan di dunia maupun pahala surga
yang Allah sediakan di Akhirat. Di antara manfaat dan keutamaan Zakat, Infak
dan Shodaqoh (ZIS) yang dijelaskan dalam hadits-hadits adalah : menghapuskan
kesalahan seorang hamba, orang yang besedekah dengan ikhlas akan mendapatkan
perlindungan dan naungan Arsy di hari kiamat, sebagai obat bagi berbagai macam
penyakit baik penyakit jasmani maupun rohani, sebagai penolak berbagai macam
bencana dan musibah, orang yang berinfaq akan didoakan oleh malaikat setiap
hari, orang yang membayar zakat akan Allah berkahi hartanya, Allah akan
melipatgandakan pahala orang yang bersedekah, Shadaqah merupakan indikasi
kebenaran iman seseorang, Shadaqah merupakan pembersih harta dan mensucikannya
dari kotoran, dll.
Dari sederet manfaat dan keutamaan yang dijelaskan
oleh Allah dan Rasulnya, barangkali ayat berikut ini dapat mewakilinya :
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh)
orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, adalah serupa
dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir
terdapat seratus biji. Allah melipat gandakan bagi orang yang Ia kehendaki. Dan
Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui." (Qs. al-Baqarah: 261).
Ketika kita menyadari dan tergugah dengan manfaat dan
keutamaan Zakat, Infak dan Shodaqoh tersebut kemudian kita melakukannya dengan
sadar dan ikhlas, maka pada saat itulah kita akan merasakan indahnya berbagi
dengan yang lain.
Wallahu A'lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar