Senin, 23 Januari 2012

DIMANAKAH TSA’LABAH SEKARANG

Seorang sahabat Nabi yang sangat miskin datang pada Nabi sambil mengadukan tekanan ekonomi yang dialaminya. Tsa’labah, nama sahabat tersebut memohon kepada Nabi untuk berdoa supaya Allah SWT memberikan rejeki yang banyak kepadanya.
Semula Nabi menolak permintaan tersebut sambil menasehati Tsalabah agar meniru kehidupan Nabi saja.Namun Tsa’labah terus mendesak, kali ini dia nengemukakan argumen yang sampai saat ini masih sering kita dengar ”Ya Rasul, bukankah kalau Allah memberikan kekayaan kepadaku, maka aku dapat membagikan kepada setiap orang haknya?”


Nabi kemudian mendo’akan Tsa’labah. Tsa’labah mulai membeli ternak, ternaknya berkembang pesat sehingga harus membangun peternakan agak jauh dari Madinah, seperti bisa diduga, setiap hari ia sibuk mengurus ternaknya. Ia tidak dapat lagi menghadiri sholat berjama’ah bersama Rasul di siang hari. Hari – hari selanjutnya, ternaknya semakin banyak, sehingga semakin sibuk pula Tsa’labah mengurusnya, kini, ia tidak dapat lagi berjamaah bersama Rasul, bahkan menghadiri sholat Jum’at dan sholat jenazah pun tak bisa dilakukannya lagi.
Ketika turun perintah zakat, Nabi menugaskan seorang sahabat untuk menarik zakat dari Tsa’labah. Sayang Tsa’labah menolak mentah-mentak utusan Nabi itu. Ketika utusan nabi datang hendak melaporkan kasus Tsa’labah ini, Nabi menyambut utusan itu dengan ucapan beliau “Celakalah Tsa’labah!”
Nabi murka, dan Allah pun murka!
Saat itu turunlah QS. At-Taubah ayat 75 – 78 :
Dan diantara mereka telah ada yang berikrar kepada Allah. Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi kebenaran. Maka Allah akan menimbulkan kemunafikan pada hari mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta.Tidaklah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka dan bahwasanya Allah amat mengetahui yang ghaib”.
Tsa’labah mendengar ada ayat turun mengecam dirinya, ia mulai ketakutan segera ia temui Nabi sambil menyerahkan zakatnya, akan tetapi Nabi menolaknya, “Allah melarang aku menerimanya”. Tsa’labah menangis tersedu-sedu, setelah Nabi wafat, Tsa’labah menyerahkan zakatnya kepada Abu Bakar, kemudian Umar, tetapi kedua khalifah itu menolaknya. Tsa’labah meninggal pada masa Usman.
Dimanakah Tsa’labah sekarang?
Jangan-jangan kitalah Tsa’labah baru yang dengan linangan air mata memohon agar rezeki Allah turun kepada kita, dan ketika rezeki itu turun dengan sombongnya kita lupakan ayat-ayat Allah:
Bukankah kita dengan alasan sibuk berbisnis tak lagi sempat sholat 5 waktu. Bukankah dengan alasan ada “meeting penting” kita lupakan perintah untuk sholat Jum’at. Bukankah ketika ada yang meminta sedekah dan zakat, kita ceramahi mereka dengan cerita bahwa harta yang kita miliki ini hasil kerja keras, siang malam, membanting tulang, bukan turun begitu saja dari langit, lalu mengapa orang-orang mau enaknya saja minta sedekah tanpa harus kerja keras?”
Kitalah Tsa’labah . . . . Tsa’labah ternyata masih hidup “madzhab”-nya masih kita ikuti.
Konon ada riwayat yang memuat saran Nabi Muhammad SAW (dan belakang digubah menjadi puisi oleh Taufiq Ismail).
“Bersedekahlah dan jangan tunggu satu hari nanti disaat engkau ingin bersedekah tetapi orang miskin menolaknya dan mengatakan “Kami tak butuh uangmu, yang kami butuhkan adalah darahmu!”
Dahulu Tsa’labah menangis didepan Nabi yang tak mau menerima zakatnya, sekarang di tengah kesenjangan sosial di negeri kita, jangan-jangan kita bukan hanya menangis namun berlumuran darah ketika orang miskin menolak sedekah dan zakat kita !
Zakat adalah kewajiban semua orang yang mengaku muslim,  yang telah Allah lebihkan rizki atas mereka, wujud tanggung jawab sosial atas nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, karena agama islam adalah agama yang sempurna, yang tidak hanya mementingkan ibadah mahdloh semata, akan tetapi harus ada keseimbangan antara hubungan manusia dengan Allah sebagai tuhannya dan hubungan manusia dengan manusia.
Allah SWT berfirman Dalam Al – Qur’an surat Lukman:34
  Sesungguhnya Allah, Hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan terjadi esok pada diri kita. Kita bisa saja merencanakan akan berinfak pada suatu hari nanti setelah anak – anak kita selesai kuliah atau menunggu harta kita banyak, tetapi kalau Allah membatasi usia kita hanya sampai hari ini maka semua yang kita rencanakan akan sia – sia, harta kita hanya akan jadi bahan rebutan para pewaris kita. Sedangkan kita di akhirat hanya bisa menyesal mengapa dahulu tidak menyegerakan berbuat kebaikan.
Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang Telah kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, Mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan Aku dapat bersedekah dan Aku termasuk orang-orang yang saleh?"(Qs. Al-Munafikun:10).
wallahu ‘alam bishowab.
Dari berbagai sumber.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar