Senin, 30 Januari 2012

Beberapa tujuan dan dampak zakat bagi si PEMBERI


1. Zakat mensucikan jiwa dari sifat kikir.
Zakat yang dikeluarkan karena ketaatan pada Allah akan mensucikannya jiwa (9:103) dari segala kotoran dan dosa, dan terutama kotornya sifat kikir. Penyakit kikir ini telah menjadi tabiat manusia (17:100; 70:19), yang juga diperingatkan Rasulullah SAW sebagai penyakit yang dapat merusak manusia (HR Thabrani), dan penyakit yang dapat memutuskan tali persaudaraan (HR Abu Daud dan Nasai). Sehingga alangkah berbahagianya orang yang bisa menghilangkan kekikiran. "Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung" (59:9; 64:16). Zakat yang mensucikan dari sifat kikir ditentukan oleh kemurahannya dan kegembiraan ketika mengeluarkan harta semata karena Allah. Zakat yang mensucikan jiwa juga berfungsi membebaskan jiwa manusia dari ketergantungan dan ketundukan terhadap harta benda dan dari kecelakaan menyembah harta.

Sabtu, 28 Januari 2012

Harta-harta yang wajib di zakati

harta yang wajib di zakati adalah:
Pertama, Uang dengan segala bentuknya, yang meliputi : emas, perak, dan lembaran-lembaran berharga (saham, obligasi dan lain-lain)
Kedua, barang dagang yang meliputi segala sesuatu yang dipersiapkan untuk mendapatkan keuntungan dari para pedagang dan penjual dengan segala macam dan bentuknya.
Ketiga, binatang ternak yang meliputi: Unta, Sapi dan kambing.  Masuk dalam katagori kambing adalah kambing gunung.
Keempat, hasil-hasil pertanian dengan segala jenis dan macamnya.
Kelima, hasil-hasil pertambangan meliputi segala sesuatu yang dikeluarkan dari perut bumi  yang berupa barang-barang tambang seperti besi dan tembaga.

Dikutip dari Panduan Lengkap & Praktis Zakat Dalam Empat Madzhab, oleh Dr. Abdullah Nashih”ulwan. Hal. 21

Rabu, 25 Januari 2012

Apalah Arti Dunia tanpa Iman dan Amal sholeh?

Apalah Artinya Dunia tanpa Iman dan Amal sholeh?

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa. ( TQS. Al-Qashassh (28) :83 )

Sobat, seandainya Anda memiliki gudang dunia, tetapi tidak memiliki iman dan amal sholeh, ketahuilah anda pasti celaka. Ada seorang pengusaha yang kaya raya. Sayang, ia berpaling dari Allah. Ia lalai dan terlena dengan kekayaannya yang melimpah dan menghabiskan hidupnya dengan main-main. Kemudian, pengusaha itu terserang kanker otak. Semua dokter telah ia datangi, semua cara telah ia tempuh dan telah mengeluarkan banyak uang untuk mengobati penyakitnya itu. Tapi penyakitnya tidak kunjung sembuh, hingga akhirnya ia meninggalkan dunia tanpa bekal harta ataupun amal.

Selasa, 24 Januari 2012

MARI HITUNG NIKMAT ALLAH SWT


“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, maka kalian tidak dapat menghitungnya: (An-Nahl : 18)
Allah telah menganugerahkan kepada Hamba-Nya berbagai nikmat yang tidak terhitung dan ternilai. Sejak kita berada di alam rahim hingga ke alam dunia namun ternyata, amat sedikit diantara hamba-Nya yang mau bersyukur.
1.      Nikmat Akal
Tengoklah rumah sakit jiwa, agar anda bisa melihat nikmat akal yang diberikan Allah kepada kita. Apakah anda pernah berfikir mengenai akal dan bagaimana Allah memberikan nikmat tersebut kepada kita ?
Akal kita lebih berharga dan lebih bernilai daripada seluruh isi dunia. Ia adalah penyeimbang, pengatur, pembimbing dan penunjuk jalan, setelah Allah SWT.
Tubuh tanpa akal adalah seonggok mayat. Manusia tanpa akal adalah binatang, kehidupan tanpa akal adalah rimba belantara, maka seperti apa jadinya diri kita tanpa akal?
Jadi akal kita laksana matahari kehidupan, rembulan bagi waktu malam, singgasana bagi kerajaan dan tempat berkumpulnya kesenangan.
Allah berbicara kepada orang-orang beranak, menurunkan itab-Nya kepada mereka, mengutus rasul-rasul-Nya kepada mereka dan memberlakukan syariat-stariat-Nya kepada orang yang berakal.

Senin, 23 Januari 2012

DIMANAKAH TSA’LABAH SEKARANG

Seorang sahabat Nabi yang sangat miskin datang pada Nabi sambil mengadukan tekanan ekonomi yang dialaminya. Tsa’labah, nama sahabat tersebut memohon kepada Nabi untuk berdoa supaya Allah SWT memberikan rejeki yang banyak kepadanya.
Semula Nabi menolak permintaan tersebut sambil menasehati Tsalabah agar meniru kehidupan Nabi saja.Namun Tsa’labah terus mendesak, kali ini dia nengemukakan argumen yang sampai saat ini masih sering kita dengar ”Ya Rasul, bukankah kalau Allah memberikan kekayaan kepadaku, maka aku dapat membagikan kepada setiap orang haknya?”

JANGAN LALAI DENGAN HARTA

Maka tatkala mereka melupakan perintah yang telah diberikan kepada mereka, kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (Q.S Al-An’aam : 44)

Datangnya musibah dari Allah itu serba mendadak tanpa kita memiliki persiapan untuk menghadapinya. Tak peduli apakah kita sedang capai, kantong kempes, dan banyak kesibukan yang luar biasa. Apabila Allah sudah menentukan maka tidak akan ada yang bisa menundanya.

Oleh karena itu, waspadalah dengan keadaan lapang karena jalan hidup ini tak selamanya mulus. Bahkan dalam ayat diatas Allah menjelaskan bahwa sebelum Allah menurunkan azab maka Allah akan melimpahkan berbagai kesenangan kepada manusia. Oleh karena itu, ketika harta kita banyak dan lapang jangan lekas bangga dan bergembira, akan tetapi justru mestinya kita terus menjaga taqwa kita kepada Allah, jangan-jangan harta yang banyak itu tipuan yang melenakan kita.

Sabtu, 21 Januari 2012

Mari berzakat, jangan nodai hartamu


“ambilah zakat itu dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan (harta) dan mensucikan (jiwa) Mereka”
Harta itu kotor, zakat yang membersihkannya. Demikianlah sejatinya ungkapan yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Ungkapan ini sebenarnya tidak terlalu berlebihan, apalagi mengingat konsep zakat yang memiliki tujuan untuk membersihkan harta dan mensucikan jiwa. Seperti firman Allah SWT :“ambilah zakat itu dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan (harta) dan mensucikan (jiwa) Mereka”.( Qs. at-taubah:103)
Ayat ini telah menegaskan begitu pentingnya arti zakat bagi mereka yang memenuhi kriteria wajib zakat yaitu para hartawa dan kaum agnia’ yang menginginkan harta yang bersih dan jiwa yang suci, sehingga hidup menjadi berkah, Karena zakat sebagai ibadah maaliyah ijtima’iyah (ibadah yang terkait dengan harta dan jiwa sosial yang dimiliki) adalah satu – satunya cara untuk membersihkan harta dari segala kotoran yang menghinggapinya. Maka dari itu tidak dapat ditawar – tawar lagi, zakat adalah perintah Allah yang mutlak harus dipenuhi.
Artinya 2,5% dari harta (Penghasilan) yang diperoleh secara rutin adalah hak orang lain. Entah itu penghasilan yang berbentuk gaji, komisi, bonus, dan lain – lain yang memenuhi nishab zakat, itulah yang dimaksud zakat penghasilan (profesi). Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya :”dan pada harta – harta mereka terdapat hak untuk orang lain yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (yang tidak meminta)”.(Qs. Adz-dzariyaat:19)

Jumat, 20 Januari 2012

Oud bound dan motivasi kepemimpinan


Pada  11 Desember  2011, Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Pekalongan,  mengadakan  acara muharram Ceria untuk anak yatim dan dhuafa’  dengan bertema “  Out bound dan Motivasi kepemimpinan  anak yatim dan dhuafa” , kegiatan ini dalam rangka menumbuhkan jiwa pemimpin pada anak – anak yatim. acara tersebut di ikuti oleh 40 anak yatim Piatu dan dhu’afa  dari berbagai Panti Asuhan dan masyarakat kota pekalongan.
Pada kesempatan muharram ceria ini hadir Bpk Jatmiko seorang Pengusaha muda berbakat yang  bertindak sebagai motivator.  Untuk lebih memeriahkan kegiatan tersebut,  BMH Pekalongan  juga mengadakan  berbagai perlombaan, meliputi  lomba mini bout, memancing sepak bola dan lain sebagainya. “ Saya senang sekali dengan kegiatan ini, selain mendapat motivasi  saya juga bisa bermain berbagai macam permainan bersama teman-teman yang lain”, ujar Sugeng Riski asal Panti sosial asuhan Anak (PSAA) Sabilillah kota Pekalongan. Aziz/ BMH Pekalongan 

Menjadi Manusia Beruntung di Dunia dan Akhirat

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (Q.S. al-‘Ashr: 2-3)
Di Qs : al-‘Ashr: 2 ini Allah dengan tegas menjelaskan bahwa sesungguhnya seluruh manusia itu berada dalam kerugian. Namun di ayat selanjutnya, yaitu ayat ke-3 ternyata Allah memberikan pengecualian Yaitu kepada orang yang memenuhi keempat syarat yang telah Allah gariskan. Yaitu:

  1. Beriman kepada Allah
Untuk menjadi manusia yang beruntung, maka kita harus menjadi manusia yang beriman kepada Allah, yang percaya kepada Allah, mengenal siapa Rabbnya, mengenal siapa Tuhannya Serta mau melaksanakan perintah-Nya.
Manusia yang beruntung adalah manusia yang tidak hanya beruntung di dunia saja tetapi juga beruntung di akhirat. Dan jika kita ingin sukses di dunia dan selamat di akhirat, maka kita harus mempercayai dan mengenali penguasa dunia dan akhirat yaitu Allah subhanahu wata’ala.

Masih ingatkah kita kepada ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kaum Quraisy? Beliau bersabda, “Maukah kalian kuajarkan kalimat yang dengannya kalian bisa menguasai dunia?”. Lalu kaum Quraisy berkata, “Apakah itu?”. Nabi menjawab, “ucapkanlah ayhadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah!”. Lalu kaum Quraisy pun mengejek beliau. Namun ternyata ucapan beliau terbukti hanya beberapa belas tahun setelah beliau meninggal.
Ada Umar bin Khattab, sang al-Faruq yang berhasil menyebarkan panji dakwah hingga ke negeri Persia dan Romawi, ada Abu Ubaidah bin Jarrah yang telah menundukkan Syam, ada Sa’ad bin Abi Waqqash sang penakluk Persia, ada Amr bin Ash sang pembebas Mesir. Apa sebenarnya yang membuat mereka menjadi manusia luar biasa padahal sebelumnya mereka hanya manusia biasa? Apa sebenarnya yang mengangkat derajat Bilal bin Rabah dan Zaid bin Haritsah yang dari seorang budak menjadi seorang ksatria? Apa sebenarnya yang mengangkat derajat Ammar bin Yasir yang papa dan lemah tak berdaya menjadi manusia yang perkasa? Semuanya berasal dari satu kekuatan! Yaitu kekuatan iman yang menancap di lubuk hati mereka. Kekuatan iman yang mampu mengubah mereka menjadi singa yang garang ketika berjihad dan berperang dan mampu mengubah mereka menjadi manusia berhati selembut sutra kepada saudara mereka. Mereka berhasil menggenggam dunia dan selamat di akhirat.
Bandingkan dengan kondisi para pembesar dunia yang tidak ada keimanan dalam hati mereka. Apakah mereka menjadi manusia yang beruntung? Mungkin mereka beruntung di dunia. Namun sayang, di akhirat mereka celaka. Tidakkan anda perhatikan bagaimana besar dan banyaknya kekayaan Fir’aun dan Qarun? Namun ternyata Allah membinasakan mereka dalam keadaan yang hina! Mengapa? Karena di hati mereka tidak ada secuil pun keimanan kepada Rabb alam semesta.
  1. Mengerjakan amal saleh
Manusia yang beruntung adalah manusia yang dalam kehidupannya terus dan tetap istiqamah beribadah kepada Allah. Ibadah mereka tidak hanya sebatas shalat, puasa, dan zakat saja, Tetapi lebih luas daripada itu. Ibadah mereka adalah segala amal kebaikan yang mereka kerjakan. Mereka mampu menjadikan hidup ini sebagai ladang untuk beramal.

Tidak peduli seberapa besar amal saleh yang anda kerjakan. Namun yang paling penting adalah bagaimana anda konsisten dengan perbuatan anda tersebut. Bagaimana anda memegang teguh prinsip kebaikan anda. Dan tahukah anda? Bahwa sebenarnya banyak manusia-manusia biasa yang menjadi manusia yang menjadi luar biasa karena mereka mampu memegang teguh prinsip yang mereka pegang. Mereka mampu melakukan totalitas dalam kesalehan mereka.
Lihat saja Utsman bin Affan. Beliau adalah orang yang sangat pemalu. Saking pemalunya hingga malaikat pun malu kepadanya. Dan dirinya memang konsisten dengan rasa malunya. Dirinya malu jika dirinya menikmati air yang segar sedangkan yang lainnya kesusahan mencari air, hingga akhirnya dia membeli sumur Rum. Dirinya malu jika hartanya tidak disumbangkan di jalan Allah. Maka pada Perang Tabuk, dirinya menyediakan sepertiga keperluan pasukan.
Atau mungkin sosok Abu Bakar mampu menjadi teladan. Dirinya mampu konsisten dalam membenarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga akhirnya beliau disebut ash-shiddiq. Atau Umar bin Khattab yang konsisten dengan hatinya yang teguh bak batu karang. Dirinya benar-benar memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Tidak ada yang abu-abu di dalam pandangannya. Hingga akhirnya beliau disebut al-Faruq.
  1. Saling menasihati dalam kebenaran
Setiap manusia tentu saja pernah melakukan kesalahan. Dan memang kesalahan adalah hal yang manusiawi. Namun, yang menjadi permasalahannya adalah sampai kapan kita melakukan kesalahan tersebut? Tentu saja kita tidak akan selamanya melakukan kesalahan. Namun kita butuh seseorang yang meluruskan kita jika langkah kita mulai menyimpang.

Karena itu, manusia yang paling beruntung adalah manusia yang saling menasihati dalam kebenaran, karena dengannya mampu merubah lingkungan ke arah yang lebih baik, mampu membentuk generasi yang lebih bagus dibandingkan sebelumnya, mampu melahirkan pribadi-pribadi tangguh yang mampu menjadi pembesar dunia dan akhirat.
Dalam lintasan sejarah, banyak nama manusia agung yang harum sepanjang zaman. Contohnya saja Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan Imam Abu Hanifah. Mengapa nama mereka mampu dikenal oleh manusia hingga saat ini? Karena mereka berdakwah dan menyeru kepada kebenaran. Mereka memperbaiki lingkungan mereka ke arah yang lebih baik. Mereka berhasil membentuk generasi yang berilmu melalui sistem saling menasihati dalam kebenaran.
Masih ingatkah kita kepada pidato Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz ketika mereka diangkat sebagai khalifah?
“Taatilah jika aku berada dalam kebenaran dan luruskanlah aku jika aku menyimpang!”
  1. Saling menasihati dalam kesabaran
Sebagai manusia biasa, tentu saja kita pernah mendapatkan ujian dari Allah, Baik itu lewat musibah, bencana, dll.
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S al-Baqarah: 155)

Dan jika kita ingin menjadi manusia yang beruntung, maka kita harus mampu menjadi manusia yang saling menasihati dalam kesabaran satu sama lain, karena dunia ini adalah tempatnya ujian dari Allah. Dan tentu jika kita ingin lulus dari ujian ini, maka kita harus memiliki kesabaran dalam menghadapi ujian tersebut.
Dalam sejarah, banyak orang-orang yang namanya harum karena mereka mampu menaklukkan ujian dengan kesabaran dan niat yang tinggi. Lihat saja kehidupan Imam Ahmad bin Hanbal. Seorang yang miskin lagi yatim, namun dengan kesabaran yang ekstra dirinya mampu mengarungi padang pasir yang luas dari Irak ke Yaman demi menuntut ilmu. Padahal umurnya saat itu masih 15 tahun!
Atau mungkin kisah sahabat dan golongan orang-orang yang paling awal masuk Islam mampu menjadikan kita lebih bisa merenung. Mereka, generasi pertama kaum muslimin, menghadapi ujian yang sangat luar biasa. Namun siapa sangka, ternyata orang-orang yang awalnya tertindas mampu bangkit menjadi manusia penguasa dunia.
Bilal bin Rabah memang hanya budak biasa, Namun siapa sangka dirinya mampu menjadi pahlawan penegak kalimat Ahad di muka bumi!
Mereka, generasi awal umat Islam, telah mengajarkan kita banyak hal. Yaitu dengan saling menasihati dalam kesabaran, mereka mampu menjadi tonggak dan pondasi yang kokoh bagi umat terbaik di dunia, umat Islam!
Karena itu, untuk menjadi orang yang beruntung, yaitu orang yang sukses di dunia dan selamat di akhirat, kita harus mampu melaksanakan keempat kriteria tersebut. Jika kita belum melaksanakan semuanya, maka kita belum menjadi manusia yang beruntung secara keseluruhan.
Wallahu a’lam 
 oleh: Slamet R